Pupuk Organik: Strategi Penjualan dan Efisiensi Produksi
Strategi Penjualan Pupuk Organik
Praktik Langsung sebagai Cara Belajar
Setelah berhenti bekerja, saya langsung turun ke lapangan untuk belajar menjual. Cara terbaik belajar menjual adalah dengan praktik langsung. Saya keliling satu kabupaten Mojokerto, menyelesaikan 360 desa. Meski awalnya tidak ada yang beli, saya terus berjalan. Kadang hanya terjual 10 atau 20 liter, itu pun sangat kecil.
Perubahan Strategi dan Harga
Awalnya saya menjual pupuk mulai dari Rp2.500 hingga akhirnya gratis, tapi tetap tidak laku. Setelah saya tingkatkan kualitas, menambahkan bahan seperti jeroan ikan, harga saya naikkan menjadi Rp100.000 per liter. Hasilnya, 50 ton pupuk habis dalam satu tahun, menghasilkan Rp5 miliar yang dibagi dengan tim pemasaran.
Inovasi dan Efisiensi Produksi
Pemanfaatan Botol Bekas dan Tandon
Di awal, saya menggunakan botol air mineral bekas dan galon untuk menyimpan pupuk. Rumah saya saat itu lebih mirip rumah pemulung. Namun, saya menghitung dengan cermat. Pakai tandon, 1 liter biayanya Rp1.000. Botol air 1,5 liter hanya Rp150. Galon putih 15 liter bisa Rp2.000. Ini semua soal efisiensi biaya.
Menabung untuk Perluasan Produksi
Tidak ada "bim salabim" dalam bisnis. Kuncinya adalah menabung dan terus menambah skala. Banyak orang bertanya “Apa yang bisa ditabung?” Namun dengan strategi ini, saya bisa membangun sistem yang menghasilkan miliaran.
Comments
Post a Comment